Permasalahan Pada Ash Handling System Di PLTU Barru 2 x 50 MW Sulawesi Selatan - DUNIA PEMBANGKIT LISTRIK

Permasalahan Pada Ash Handling System Di PLTU Barru 2 x 50 MW Sulawesi Selatan

DUNIA PEMBANGKIT LISTRIK - Flue Gas atau gas buang pada pembangkit listrik terutama berbahan bakar batubara sangatlah bisa mengakibatkan pencemaran udara yang serius apabila tidak ditangani dengan baik dan benar. Untuk penanganan ini diperlu ash handling system.

Ash Handling System merupakan sistem yang berfungsi atau menangani limbah sisa pembakaran bahan bakar batubara baik berupa debu atau asap (fly ash) dan bottom ash (sisa pembakaran batubara yang tidak sempurna). Limbah sisa pembakaran batubara bisa dimanfaatkan kembali berupa sebagai bahan pembuatan batako, campuran pada semen, dll.

Baca Juga : Coal Handling System Pada Pembangkit Listrik Berbahan Bakar Batubara

Ash handling system PLTU Barru memiliki 2 unit ESP A dan B, masing - masing unit ESP terdiri dari 4 hopper dan 4 transporter, 2 unit fly ash silo dan 1 unit bottom ash silo.

Pada kesempatan kali ini kami tidak akan membahas mengenai sistem ash handling pada pembangkit listrik berbahan bakar batu bara melainkan, kami akan membahas mengenai permasalahan yang sering terjadi atau timbul di sistem ash handling.

Permasalahan ini sesuai dengan pengalaman (bekerja di PLTU Barru, Sulawesi Selatan) yang sering kami jumpai. Baiklah, berikut ini permasalahan yang sering timbul di ash handling system PLTU Barru Sulawesi Selatan 2 x 50 MW yaitu :

1. Pipe Line Transporter Bocor dan Tersumbat (Blocking)

2. Transporter Blocking

3. Trafo ESP rusak

4. Bleeder Valve Hancur Bagian Dalam

5. Hopper Blocking

6. Sistem DCS tidak berfungsi dengan baik atau abnormal

7. Compressor Conveying rusak dan tidak bisa bekerja maksimal

8. Dryer tidak berfungsi

Baca Juga : Bagian - Bagian Ash Handling System Pada Pembangkit Listrik

Sebenarnya masih banyak permasalahan yang kami jumpai. 8 permasalahan diatas merupakan yang sering terjadi hampir setiap harinya. Nomor 1 paling populer di ash handling PLTU Barru Sulawesi Selatan. Biasanya untuk operator berinisiasi atau preventif dengan membalut pipa line transporter dengan karet ban mobil untuk sementara waktu sampai ada tindakan dari teknisi atau bidang pemeliharaan.

Nomor 2 merupakan permasalahan yang populer urutan kedua. Problem ini dikarenakan akibat kondisi batubara yang basah dan heater pada ESP tidak berfungsi maksimal sehingga mengakibatkan fly ash menggempal keras baik di collecting plate, hopper, transporter dan pipe line menuju fly ash silo. Populer di urutan 3 yaitu blocking. Blocking terjadi ketika batubara sangat basah dan kurangnya drain fly ash ke fly ash silo. Tindakan preventif yang bisa dilakukan operator yang bertugas yaitu dengan menge-drain fly ash dari transporter ke fly ash silo.

Tindakan paling utama daripada bidang pemelihraan yaitu mengelas pipa yang bocor tersebut. Apabila tidak bisa di las akan dilakukan penyambungan pipa. Sekali lagi dalam penanganan limbah batubara harus memiliki treatment atau cara khusus agar tidak menimbulkan pencemaran bagi sumber daya manusia atau pekerja pembangkit, lingkungan sekitar area pembangkit dan masyarakat di sekitar pembangkit listrik.


Demikian penjelasan mengenai pengalaman tentang permasalahan yang sering kami jumpai di ash handling system di PLTU Barru 2 x 50 MW Sulawesi Selat n. Setiap pembangkit listrik tentunya memiliki permasalahan yang kompleks. Semoga bisa bermanfaat dan menambah wawasan mengenai pembangkit listrik khususnya dalam sistem debu sisa pembakaran batubara di furnace (Ash Handling System).

0 Response to "Permasalahan Pada Ash Handling System Di PLTU Barru 2 x 50 MW Sulawesi Selatan - DUNIA PEMBANGKIT LISTRIK"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel