07 September 2018

DUNIA PEMBANGKIT LISTRIK : Mengenal Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa)

DUNIA PEMBANGKIT LISTRIK - Pada kesempatan kali ini duniapembangkitlistrik.com akan mengajak Anda untuk membahas mengenai pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa). Baiklah, berikut penjelasannya. Selamat membaca.


PENGERTIAN PLTSa (PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA SAMPAH)

PLTSa (Pembangkit Listrik Tenaga Sampah) merupakan sebuah pembangkitan listrik yang menggunakan sampah sebagai bahan bakarnya. Pembangkit listrik ini sudah diterapkan oleh berbagai negara maju di dunia. Sebut saja Amerika Serikat, Perancis, Inggris dan Swedia.

Indonesia, negara tercinta yang kebetulan memiliki masalah energi dan pengelolaan sampah yang tidak kunjung-kunjung selesai sebenarnya bisa memanfaatkan teknologi ini. Dengan PLTSa pemadaman bergilir di lokasi-lokasi terpencil mungkin tidak perlu terjadi lagi. Dengan PLTSa banjir di berbagai di daerah di tanah air akibat kesalahan pengelolaan sampah bisa dihilangkan.


METODE ATAU CARA KERJA PLTSa (PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA SAMPAH)

Sekilas mengenai manfaat PLTSa, berikut akan kami jelaskan secara singkat mengenai cara kerja PLTSa. Pada dasarnya cara kerja PLTSa ini dibedakan ke dalam tiga metode, yaitu:

The EfW Process (Direct Combustion)

A. Pembakaran

PLTSa dengan proses pembakaran menggunakan proses konversi thermal dalam mengolah sampah menjadi energi. Proses kerjanya melalui beberapa tahap, yaitu :

1. Pemilahan dan Penyimpanan Sampah

Limbah sampah kota akan dikumpulkan pada suatu tempat yang dinamakan Tempat Pengolahan Akhir (TPA), dimana pemilahan akan dilakukan sesuai dengan kriteria yang dibutuhkan PLTSa. Sampah ini kemudian disimpan ke dalam bunker yang menggunakan teknologi RDF (Refused Derived Fuel) yang berguna dalam mengubah sampah menjadi limbah padatan sehingga mempunyai nilai kalor yang tinggi. Proses penyimpanan ini dilakukan selama lima hari hingga kadar air sampah tinggal 45%.

2. Pembakaran Sampah

Proses pembakaran pada PLTSa menggunakan tungku yang pada awal pengoperasiannya menggunakan bahan bakar minyak. Setelah suhu tungku mencapai 850 - 900 derajat celcius, sampah akan dimasukkan ke dalam tungku yang berjalan selama 7800 jam. Hasil pembakaran sampah ini akan menghasilkan gas buangan yang mengandung CO, CO2, O2, NOX dan SOX yang diikuti oleh penurunan kadar O2. 

3. Pemanasan Boiler
Panas yang digunakan untuk memanaskan boiler berasal dari pembakaran sampah. Panas ini akan memanaskan boiler dan mengubah air di dalam boiler menjadi uap.

4. Pergerakan Turbin dan Generator
Uap yang tercipta dari pemanasan boiler akan disalurkan ke turbin uap sehingga turbin akan berputar. Karena turbin dihubungkan dengan generator maka ketika turbin berputar generator juga akan berputar. Generator yang berputar akan menghasilkan listrik yang akan disalurkan ke masyarakat luas.


B. Gasifikasi

Gasifikasi

Pada metode gasifikasi sampah yang berbentuk biomassa diubah menjadi gas sintetik melalui teknologi plasma yang melibatkan proses oksidasi tingkat tinggi dan ozonisasi dengan penyinaran menggunakan ultra violet, lalu dimurnikan kembali. Gas yang telah dimurnikan tersebut digunakan sebagai bahan bakar untuk menggerakkan turbin yang akan menghasilkan energi listrik.


C. Fermentasi

Metode fermentasi menggunakan bakteri anaerob untuk memecah material organik (tanpa oksigen). Metode ini selain menghasilkan gas yang kaya akan karbon dioksida dan methane yang akan digunakan sebagai bahan bakar pembangkit listrik, juga menghasilkan kompos yang sangat efektif digunakan sebagai penyubur tanah.

Metode fermentasi terbagi menjadi dua tipe berdasarkan bahan yang digunakan. Tipe pertama adalah metode fermentasi basah (wet fermentation). Dan tipe yang kedua adalah metode fermentasi kering (dry fermentation). Pada metode fermentasi basah material yang dibutuhkan yang akan masuk ke dalam sistem haruslah material dengan komposisi padatannya kurang dari 15%, dan biasanya metode ini memerlukan penambahan air untuk memenuhi persyaratan tersebut. Metode ini sering ditemukan di daerah pertanian dimana area pertanian memang menghasilkan limbah cair yang banyak setiap hari.

Metode fermentasi basah (wet fermentation)

Untuk metode fermentasi kering, tidak seperti tipe basah, memerlukan material yang komposisi padatannya di atas 50%. Metode ini dari beberapa sisi lebih efektif jika dibandingkan dengan wet fermentation karena tidak memerlukan penambahan cairan pada materialnya.

Metode fermentasi kering (dry fermentation)

Ketiga metode PLTSa di atas memiliki keunggulan dan kelemahannya masing-masing dan efektivitasnya telah dirasakan oleh banyak negara maju. Satu contoh yang bisa dilihat adalah bagaimana Swedia berhasil mengintegrasikan sistem manajemen pengelolaan sampahnya dengan jaringan pembangkit listriknya.

Bahkan karena tingkat keberhasilannya yang tinggi, Swedia bahkan harus mengimpor sampah dari negara tetangganya, Norwegia untuk menyuplai PLTSa-nya.


Demikian penjelasan mengenai PLTSa (Pembangkit Listrik Tenaga Sampah). Semoga bermanfaat bagi kita semua dan menambah wawasan mengenai pembangkit listrik alternatif sampah. 

Artikel Terkait