20 August 2018

Konstruksi, Prinsip Kerja dan Kecepatan Putar Pada Generator Sinkron

Generator

DUNIA PEMBANGKIT LISTRIK - Pada kesempatan kali ini duniapembangkitlistrik.com akan mengajak Anda untuk membahas mengenai konstruksi, prinsip kerja dan kecepatan putar generator sinkron. Baiklah, berikut penjelasannya. Selamat membaca.

Pada generator sinkron, arus DC diterapkan pada lilitan rotor untuk mengahasilkan mdan magnet rotor. Rotor generator diputar oleh prime mover menghasilkan medan magnet berputar pada mesin. Medan magnet putar ini menginduksi tegangan tiga fasa pada kumparan stator generator. Rotor pada generator sinkron pada dasarnya adalah sebuah elektromagnet yang besar. Kutub medan magnet rotor dapat berupa salient (kutub sepatu) dan dan non salient (rotor silinder). Gambaran bentuk kutup sepatu generator sinkron diperlihatkan pada gambar di bawah ini.


Rotor Salient

Pada kutub salient,  kutub magnet menonjol keluar dari permukaan rotor sedangkan pada kutub non salient, konstruksi kutub magnet rata dengan permukaan rotor.

Rotor silinder umumnya digunakan untuk rotor dua kutub dan empat kutub, sedangkan rotor kutub sepatu digunakan untuk rotor dengan empat atau lebih kutub. Pemilihan konstruksi rotor tergantung dari kecepatan putar prime mover, frekuensi dan rating daya generator. Generator dengan kecepatan 1500 rpm ke atas pada frekuensi 50 Hz dan rating daya sekitar 10MVA menggunakan rotor silinder. Sementara untuk daya dibawah 10 MVA dan kecepatan rendah maka digunakan rotor kutub sepatu. Gambaran bentuk kutup silinder generator sinkron diperlihatkan pada gambar di bawah ini

Generator Sinkron

Arus DC disuplai ke rangkaian medan rotor dengan dua cara:

1. Menyuplai daya DC ke rangkaian dari sumber DC eksternal dengan sarana slip ring dan sikat.
2. Menyuplai daya DC dari sumber DC khusus yang ditempelkan langsung pada batang rotor generator sinkron.


1.2  Prinsip Kerja Generator Sinkron


Jika sebuah kumparan diputar pada kecepatan konstan pada medan magnethomogen, maka akan terinduksi tegangan sinusoidal pada kumparan tersebut. Medan magnet bisa dihasilkan oleh kumparan yang dialiri arus DC atau oleh magnet tetap. Pada mesin tipe ini medan magnet diletakkan pada stator (disebut generator kutub eksternal / external pole generator) yang mana energi listrik dibangkitkan pada kumparan rotor. Hal ini dapat menimbulkan kerusakan pada slip ring dan karbon sikat, sehingga menimbulkan permasalahan pada pembangkitan daya tinggi. Untuk mengatasi permasalahan ini, digunakan tipe generator dengan kutub internal (internal pole generator), yang mana medan magnet dibangkitkan oleh kutub rotor dan tegangan AC dibangkitkan pada rangkaian stator.

Tegangan yang dihasilkan akan sinusoidal jika rapat fluks magnet pada celah udara terdistribusi sinusoidal dan rotor diputar pada kecepatan konstan. Tegangan AC tiga fasa dibangkitan pada mesin sinkron kutub internal pada tiga kumparan stator yang diset sedemikian rupa sehingga membentuk beda fasa dengan sudut 120°. Bentuk gambaran sederhana hubungan kumparan 3-fasa dengan tegangan yang dibangkitkan diperlilhatkan pada gambar di bawah ini.


Kumparan 3 Phasa

Pada rotor kutub sepatu, fluks terdistribusi sinusoidal didapatkan dengan mendesain bentuk sepatu kutub. Sedangkan pada rotor silinder, kumparan rotor disusun secara khusus untuk mendapatkan fluks terdistribusi secara sinusoidal. Untuk tipe generator dengan kutub internal (internal pole generator), suplai DC yang dihubungkan ke kumparan rotor melalui slip ring dan sikat untuk menghasilkan medan magnet merupakan eksitasi daya rendah. Jika rotor menggunakan magnet permanen, maka tidak slip ring dan sikat karbon tidak begitu diperlukan.


1.3  Kecepatan Putar Generator Sinkron


Frekuensi elektris yang dihasilkan generator sinkron adalah sinkron dengan kecepatan putar generator. Rotor generator sinkron terdiri atas rangkaian elektromagnet dengan suplai arus DC. Medan magnet rotor bergerak pada arah putaran rotor. Hubungan antara kecepatan putar medan magnet pada mesin dengan frekuensi elektrik pada stator adalah:
yang mana:
fe = frekuensi listrik (Hz)
nr =  kecepatan putar rotor = kecepatan medan magnet (rpm)
p = jumlah kutub magnet


Oleh karena rotor berputar pada kecepatan yang sama dengan medan magnet, persamaan diatas juga menunjukkan hubungan antara kecepatan putar rotor dengan frekuensi listrik yang dihasilkan. Agar daya listrik dibangkitkan tetap pada frekuensi 50Hz atau 60 Hz, maka generator harus berputar pada kecepatan tetapdengan jumlah kutub mesin yang telah ditentukan. Sebagai contoh untuk membangkitkan 60 Hz pada mesin dua kutub, rotor arus berputar dengan kecepatan 3600 rpm. Untuk membangkitkan daya 50 Hz pada mesin empat kutub, rotor harus berputar pada 1500 rpm.

Demikian pembahasan mengenai Konstruksi, Prinsip Kerja dan Kecepatan Putar Generator Sinkron. Semoga bermanfaat bagi kita semua.

Jenis - Jenis Kawat Penghantar Pada Saluran Udara Tegangan Menengah (SUTM)

Jenis Konduktor

DUNIA PEMBANGKIT LISTRIK - Pada kesempatan kali ini duniapembangkitlistrik.com akan mengajak Anda untuk membahas jenis - jenis  kawat penghantar pada SUTM. Baiklah, berikut ini penjelasannya. Selamat membaca.

Kawat dengan bahan konduktor untuk saluran transmisi tegangan tinggi selalu tanpa pelindung/isolasi kawat. Ini hanya kawat berbahan tembaga atau alumunium dengan inti baja (steel-reinforced alumunium cable/ACSR) telanjang besar yang terbentang untuk mengalirkan arus listrik.

Jenis-jenis kawat penghantar yang biasa digunakan antara lain :
1. Tembaga dengan konduktivitas 100% (cu 100%)
2. Tembaga dengan konduktivitas 97,5% (cu 97,5%)
3. Alumunium dengan konduktivitas 61% (Al 61%)

Kawat tembaga mempunyai kelebihan dibandingkan dengan kawat penghantar alumunium, karena konduktivitas dan kuat tariknya lebih tinggi. Akan tetapi juga mempunyai kelemahan yaitu untuk besaran tahanan yang sama, tembaga lebih berat dan lebih mahal dari alumunium. 

Oleh karena itu,  kawat penghantar
alumunium telah mulai menggantikan kedudukan kawat tembaga. Untuk memperbesar kuat tarik dari kawat alumunium, digunakan campuran alumunium (alumunium alloy). Untuk saluran transmisi tegangan tinggi, dimana jarak antara menara/tiang berjauhan, maka dibutuhkan kuat tarik yang lebih tinggi, oleh karena itu digunakan kawat penghantar ACSR. Kawat penghantar alumunium, terdiri dari berbagai jenis, dengan lambang sebagai berikut :

1. AAC (All-Alumunium Conductor), yaitu kawat penghantar yang seluruhnya terbuat dari alumunium.

Konduktor Jenis ACC 

2. AAAC (All-Alumunium-Alloy Conductor), yaitu kawat penghantar yang seluruhnya terbuat dari campuran alumunium.

Konduktor Jenis AAAC

3. ACSR (Alumunium Conductor, Steel-Reinforced), yaitu kawat penghantar alumunium berinti kawat baja.
 
Konduktor Jenis ACSR

4. ACAR (Alumunium Conductor, Alloy-Reinforced), yaitu kawat penghantar alumunium yang diperkuat dengan logam campuran.

Demikian pembahasan mengenai jenis - jenis kawat penghantar pada SUTM. Semoga bermanfaat bagi kita semua.

11 August 2018

Pengertian Induktor dan Jenis - Jenis Induktor

Induktor


DUNIA PEMBANGKIT LISTRIK - Pada kesempatan kali ini duniapembangkitlistrik.com akan mengajak Anda untuk membahas mengenai pengertian induktor beserta jenis - jenisnya. Baiklah, berikut penjelasannya. Selamat membaca.

Induktor merupakan komponen elektronika yang biasa juga disebut sebagai coil, kumparan, dan lilitan. Induktor berupa komponen eletronika yang memiliki ciri fisik tembaga/kawat yang dililitkan. Induktor masuk kedalam kategori Komponen Elektronika Pasif, yang dimana tidak mempunyai kemampuan untuk menguatkan dan mengarahkan aliran arus listrik di dalam rangkaian elektronik. Mungkin Bisa lihat dibawah ini penjelasan lebih lengkapnya tentang Induktor :

 Berikut ini Adalah Simbol dari Induktor :

Simbol - Simbol Induktor


Induktor

Induktor adalah komponen elektronik pasif yang dapat menyimpan energi listrik dalam bentuk energi magnetik. Ini menggunakan konduktor yang dililit ke dalam kumparan. Saat aliran listrik ke kumparan dari kiri ke kanan, medan magnet akan dihasilkan dalam arah searah jarum jam. Induktor adalah salah satu komponen elektronik dasar yang digunakan dalam rangkaian yang arus dan tegangannya berubah-ubah dikarenakan kemampuan induktor untuk memproses Arus Bolak-Balik.
Sebuah induktor ideal memiliki induktansi, tetapi tanpa Resistansi atau Kapasitansi dan tidak memboroskan daya. Sebuah induktor pada kenyataanya merupakan gabungan dari induktansi, beberapa resistansi karena resistivitas kawat, dan beberapa kapasitansi. Pada suatu frekuensi, induktor dapat menjadi sirkuit resonansi karena kapasitas parasitnya. Selain memboroskan daya pada resistansi kawat, induktor berinti magnet juga memboroskan daya di dalam inti karena efek histeresis, dan pada arus tinggi mungkin mengalami nonlinearitas karena penjenuhan.

Penggunaan Induktor

Induktor sering digunakan pada sirkuit analog dan pemroses sinyal. Induktor berpasangan dengan kondensator dan komponen lain membentuk sirkuit tertala. Penggunaan induktor bervariasi dari penggunaan induktor besar pada pencatu daya untuk menghilangkan dengung pencatu daya, hingga induktor kecil yang terpasang pada kabel untuk mencegah interferensi frekuensi radio untuk dprd melalui kabel. Kombinasi induktor-kondensator menjadi rangkaian tala dalam pemancar dan penerima radio. Dua induktor atau lebih yang terkopel secara magnetik membentuk transformator.
Induktor digunakan sebagai penyimpan energi pada beberapa pencatu daya moda sakelar. Induktor dienergikan selama waktu tertentu, dan dikuras pada sisa siklus. Perbandingan transfer energi ini menentukan tegangan keluaran. Reaktansi induktif XL ini digunakan bersama semikonduktor aktif untuk menjaga tegangan dengan akurat. Induktor juga digunakan dalam sistem transmisi listrik, yang digunakan untuk mengikangkan paku-paku tegangan yang berasal dari petir, dan juga membatasi arus pensakelaran dan arus kesalahan. Dalam bidang ini, indukutor sering disebut dengan reaktor.

Baca juga : Pengertian Transformator Step Up dan Step Down

Jenis-Jenis Induktor

Jenis - Jenis Induktor

Terdapat banyak jenis-jenis dari Induktor yang ada dipasaran. Jenis Induktor ini dapat dibedakan dengan bahan pembuatannya, dan bentuknya. Berikut ini adalah Jenis inductor beserta penjelasan singkatnya :

a. Variable Inductor

Variable Inductor adalah jenis induktor yang besar kecilnya nilai induktansi dapat diatur sesuai dengan keinginan. Biasanya induktor yang satu ini menggunakan bahan ferit.

b. Torroidal Core Inductor (induktor inti teroid)

Bentuk induktor jenis ini melingkar seperti donat, nilai induktansi dan faktor Q yang dimilikinya sangat tinggi, induktor ini banyak digunakan pada rangkaian power dan switching, Televisi.

c. Iron Core Inductor (induktor dengan inti besi)

Sesuai namanya inti pusat induktor ini terbuat dari bahan besi padat, Besarnya inti besi yang digunakan pada sebuah induktor sangat bermacam-macam tergantung kebutuhan.  Sayangnya arus eddy dan histerystis yang dihasilkan oleh induktor jenis ini sangat besar sehingga hanya digunakan untuk aplikasi rendah dengan daya tinggi seperti pada power supply, inverter dll. dan nilai induktansi yang tersedia biasanya besar.

d. Air Core Inductor (Induktor dengan inti udara)

Tidak memakai material sebagai intinya pada induktor jenis ini, rangkaian RF banyak menggunakan induktor jenis ini karena tidak ada kerugian energi dan memiliki permeabilitas udara yang sangat rendah. Induktor jenis ini hanya tersedia dengan ukuran nilai induktansi yang kecil.

e. Ferrite Core Inductor (induktor dengan inti ferit)

Inti ferit terbuat dari bahan bubuk keramik yang dipadatkan. Induktor dengan inti ferit ini paling banyak penggunaannya pada rangkaian elektronik terutama pada rangkaian frekuensi tinggi karena memiliki histeristis yang kecil dan arus eddy yang sangat rendah. Induktor yang satu ini banyak dijumpai di rangkaian-rangkaian elektronika yang cukup rumit.

f. Laminated Core Induction (Induktor dengan inti besi laminasi)

inti induktor ini terbuat dari susunan lembaran baja tipis yang terlaminasi. antar lapisan baja tipis ditempelkan secara kuat agar terbentuk inti yang padat, dan dipisahkan oleh lapisan isolasi untuk mengcegah arus eddy. Beberapa jenis logam yang dipakai disambung secara paralel dengan sekat berbahan isolator.

Demikian pembahasan mengenai pengerian induktor beserta jenis - jenis induktor. Semoga bermanfaat bagi kita semua.

Cara Kerja Relay 5 Kaki 12 Volt | DUNIA PEMBANGKIT LISTRIK

Relay 5 Kaki

DUNIA PEMBANGKIT LISTRIK - Pada kesempatan kali duniapembangkitlistrik.com akan mengajak Anda untuk membahas mengenai cara kerja relay 5 kaki 12 volt. Baiklah, berikut penjelasannya. Selamat membaca.

Cara kerja relay 5 kaki 12 volt secara sederhana bekerja sebagai saklar pada suatu rangkaian listrik. Relay yang kini ada di pasaran bisa digunakan pada rangkaian AC maupun DC sesuai dengan petunjuk pemakaian dan penggunaannya. Biasanya, pada relay tertulis jenis relay tersebut apakah untuk listrik AC atau listrik DC. Saat ini, tersedia relai dengan berbagi bentuk dan ukuran. Namun demikian, untuk lebih mudah biasanya dibedakan berdasarkan jumlah kaki rela yang ada.

Untuk relay 5 kaki, setiap kaki relay akan memiliki kode yang biasanya ditandai dengan angka untuk membedakan fungsi kaki relay tersebut. Setiap kaki relay akan memiliki fungsi yang berbeda antara satu dan lainnya. Sehingga bila terjadi pemasangan kaki dengan konfigurasi yang berbeda maka akan membuat fungsi relay menjadi berbeda pula. Merk relay 5 kaki 12 volt sangat beragam, seperti Bosch, Hella, dan Avital. Perbedaan merek akan menentukan kualitas dan harga saja bukan pada fungsi kegunaannya.


Cara kerja relay 5 kaki 12 volt sangat ditentukan oleh kondisi posisi saklar itu sendiri. Untuk posisi saklar sendiri, kita mengenal 3 posisi sesuai dengan hubungan yang terjadi. Posisi pertama adalah NO (Normally Open) pada pisisi ini relay mendapat tegangan dari pada elektromagnetnya. Posisi kedua adalah NC (Normally Close) dimana relay tidak mendapat tegangan. Posisi ketiga adalah CO (Change Over) yaitu posisi dimana terjadi sumber tegangan diputus dan diberikan pada kumparan elektromagnet di relay.

Cara pasang relay 5 kaki 12 volt akan menentukan arus yang terjadi pada perangkat elektronik yang akan menggunakan relay ini. Karena itu, pemasangan relay harus sesuai dengan kebutuhan. Selain cara pasang, kapasitas relay juga sangat menentukan bahwa relay bisa bekerja dan berfungsi dengan baik. Karena itu, sangat disarankan untuk membeli relay sesuai dengan kapasitas yang dibutuhkan.

Baca Juga : Jenis - Jenis Relay

Untuk melakukan pemasangan, kita bisa menyesuaikan dengan kode yang ada di kaki relay sebagai berikut :

- Kode 30 pada kaki relay adalah sebagai penanda bahwa kaki tersebut langsung dipasang ke sumber listrik yaitu AKI.
- Kode 85 pada relay biasanya akan dipasang pada body mobil, untuk pemasangan kaki dengan kode ini, kita cukup menghubungkan dengan baut yang menancap pada body.
- Kode 86 pada relay biasanya akan disambungkan dengan kabel positif terdekat dimana relay dipasang, kabel positif bisa kita sambung dari klakson maupun lampu mobil.
- Kabel 87 merupakan kabel yang akan mengeluarkan arus ketika relay digunakan arus yang dihasilkan bisa merupakan arus positif maupun negatif sesuai dengan pemasangan kaki 30 dan 85 dan 86.
- Kabel 87a sebagai kaki ke 5 memiliki fungsi yang sama seperti dengan kode kaki 87 namun kaki ini akan berfungsi kebalikan, yaitu ketika kode 87 tidak ada arus maka kode 87a akan memiliki arus.

Cara kerja relay 5 kaki 12 volt secara sederhana akan ditentukan oleh pemasangan kaki-kakinya pada rangkaian listrik. Sangat disarankan untuk memasang relay sesuai kapasitas yang dibutuhkan agar instalasi listrik bisa aman. Pemasangan relay dibawah kapasitas arus akan membuat relay cepat panas dan kabel meleleh atau gosong.

Demikian pembahasan mengenai cara kerja relay 5 kaki 12 volt. Semoga bermanfaat bagi kita semua.

09 August 2018

Jenis - Jenis Lampu Yang Ada Disekitar Kita

Komponen - Komponen Lampu

DUNIA PEMBANGKIT LISTRIK - Pada kesempatan kali ini duniapembangkitlistrik.com akan mengajak Anda untuk membahas mengenai jenis - jenis lampu yang ada disekitar kita. Baiklah, berikut penjelasannya. Selamat membaca.
Sudah tidak asing lagi lampu dalam kehidupan kita. Lampu bahkan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Lampu berfungsi sebagai penerang. Dan berikut ini adalah macam -  macam lampu :
1.  Lampu Pijar (GLS)
Lampu pijar bertindak sebagai ‘badan abu-abu’ yang secara selektif memancarkan  radiasi, dan hampir seluruhnya terjadi pada daerah nampak. Bola lampu  terdiri dari hampa udara atau berisi gas,  yang dapat menghentikan oksidasi dari kawat pijar tungsten, namun tidak akan menghentikan penguapan. Warna gelap bola lampu dikarenakan  tungsten yang teruapkan mengembun pada permukaan lampu yang relatif dingin. Dengan adanya gas inert, akan menekan terjadinya penguapan, dan semakin besar berat molekulnya akan makin mudah  menekan terjadinya penguapan.
Untuk lampu biasa dengan harga yang murah, digunakan campuran argon nitrogen dengan perbandingan 9/1.  Kripton atau  Xenon hanya digunakan dalam penerapan khusus seperti lampu sepeda di mana bola lampunya berukuran kecil. Untuk  mengimbangi kenaikan harga, dengan cara  jika penampilan merupakan hal yang penting, gas yang terdapat dalam bola pijar dapat menyalurkan panas dari kawat pijar,  sehingga daya hantar yang rendah menjadi penting. Lampu yang berisi gas biasanya  memadukan sekering dalam kawat timah.  Gangguan kecil dapat menyebabkan pemutusan  arus listrik,  yang dapat menarik arus yang sangat  tinggi.  Jika patahnya kawat  pijar merupakan akhir dari umur lampu, tetapi untuk kerusakan sekering tidak begitu halnya.
Lampu Pijar
Gambar 1. Lampu Pijar
Ciri-ciri
  1. Efficacy – 12 lumens/Watt
  2. Indeks Perubahan Warna – 1A
  3. Suhu Warna – Hangat (2.500K – 2.700K)
  4. Umur Lampu – 1-2.000 jam
2. Lampu Tungsten Halogen
Lampu halogen adalah sejenis lampu pijar. Lampu ini memiliki kawat  pijar tungsten seperti lampu pijar biasa yang digunakan di rumah, tetapi bola lampunya diisi dengan gas halogen.  Atom tungsten menguap dari kawat pijar panas dan bergerak naik ke dinding pendingin bola lampu.  Atom tungsten, oksigen dan halogen bergabung pada dinding bola lampu  membentuk  molekul oksihalida tungsten. Suhu dinding bola lampu menjaga molekul oksihalida tungstendalam keadaan uap. Molekul bergerak kearah kawat pijar panas di mana suhu tinggi memecahnya menjadi terpisah-pisah. Atom tungsten disimpan kembali pada daerah pendinginan dari kawat pijar bukan ditempat yang sama dimana atom diuapkan. Pemecahan biasanya terjadi dekat sambungan antara kawat pijar tungsten dan kawat timah molibdenum dimana suhu turun secara tajam.
Lampu Tungsten Halogen
Gambar 2. Lampu Tungsten Halogen
Ciri-ciri:
  1. Efficacy – 18 lumens/Watt
  2. Indeks Perubahan Warna – 1A
  3. Suhu Warna – Hangat (3.000K-3.200K)
  4. Umur Lampu – 2-4.000 jam
Kekurangan lampu halogen tungsten
  1. Lebih mahal
  2. IR meningkat
  3. UV meningkat
  4. Masalah handling
Kelebihan lampu halogen tungsten
  1. Lebih kompak
  2. Umur lebih panjang
  3. Lebih banyak cahaya
  4. Cahaya lebih putih ( suhu warna lebih tinggi)
3.  Lampu Neon 
Lampu neon, 3 hingga 5 kali lebih efisien dari pada lampu pijar standar dan dapat bertahan 10 sampai 20 kali lebih awet. Dengan melewatkan listrik melalui uap gas atau logam akan menyebabkan radiasi elektromagnetik pada panjang gelombang tertentu sesuai dengan komposisi kimia dan tekanan gasnya. Tabung neon memiliki uap merkuri bertekanan rendah dan akan memancarkan sejumlah kecil radiasi biru dan  hijau. Namun kebanyakan akan berupa radiasi UV pada 253,7 nm dan 185 nm. Bagian dalam dinding kaca memiliki pelapis tipis fosfor, hal ini dipilih untuk menyerap radiasi UV dan meneruskannya ke daerah nampak. Proses ini memiliki efisiensi sekitar 50%. Tabung neon merupakan lampu ‘katode panas’, karena katode dipanaskan sebagai bagian dari proses awal. Katodenya berupa kawat pijar tungsten dengan sebuah lapisan barium karbonat. Jika dipanaskan, lapisan ini akan mengeluarkan elektron tambahan untuk membantu pelepasan.
Lapisan ini tidak boleh diberi pemanasan berlebih sebab umur lampu akan berkurang. Lampu menggunakan kaca soda kapur yang merupakan pemancar UV yang buruk. Jumlah merkurinya sangat kecil, biasanya 12 mg. Lampu yang terbaru menggunakan amalgam merkuri, yang kandungannya sekitar 5 mg. Hal ini memungkinkan tekanan merkuri optimum berada pada kisaran suhu yang lebih luas. Lampu ini sangat berguna bagi pencahayaan luar ruangan karena memiliki fitting yang kompak.
Lampu Neon
Gambar 3. Lampu Neon
Operasi lampu yang paling efisien dicapai bila suhu ambien berada antara 20 dan 30°C untuk lampu neon. Suhu yang lebih rendah menyebabkan penurunan tekanan merkuri, yang berarti bahwa energi UV yang diproduksi menjadi semakin sedikit. Oleh karena itu, lebih sedikit energi UV yang berlaku sebagai fosfor sehingga sebagai hasilnya cahaya yang dihasilkan menjadi sedikit. Suhu yang tinggi menyebabkan pergeseran dalam panjang gelombang UV yang dihasilkan sehingga akan lebih dekat ke spektrum tampak. Makin panjang panjang gelombang UV akan makin sedikit pengaruhnya terhadap fosfor, dan oleh karena itu keluaran cahaya pun akan berkurang. Pengaruh keseluruhannya adalah bahwa keluaran cahayanya jatuh di atas dan di bawah kisaran suhu ambien yang optimal.
4. Lampu Neon Yang Kompak (CFL)
Lampu neon kompak yang tersedia saat ini membuka seluruh pasar bagi lampu neon. Lampu lampu ini dirancang dengan bentuk yang lebih kecil yang dapat bersaing dengan lampu pijar dan uap merkuri di pasaran lampu dan memiliki bentuk bulat atau segi empat. Produk di pasaran tersedia dengan gir pengontrol yang sudah terpasang (GFG) atau terpisah (CFN).
Lampu CFL
Gambar 4 CFL
Ciri-ciri:
  1. Efficacy – 60 lumens/Watt
  2. Indeks Perubahan Warna – 1B
  3. Suhu Warna – Hangat, Menengah
  4. Umur Lampu – 7-10.000 jam
5.  Lampu Sodium 
a. Lampu Sodium tekanan tinggi 
  • Lampu sodium tekanan tinggi
Lampu sodium tekanan tinggi (HPS) banyak digunakan untuk penerapan di luar ruangan dan industri. Efficacy nya yang tinggi membuatnya menjadi pilihan yang lebih baik daripada metal halida, terutama bila perubahan warna yang baik bukan menjadi prioritas. Lampu HPS berbeda dari lampu merkuri dan metal halida karena tidak memiliki starter elektroda. Sirkuit balas dan starter elektronik tegangan tinggi. Tabung pemancar listrik terbuat dari bahan keramik, yang dapat menahan suhu hingga 2372°F. Didalamnya diisi dengan xenon untuk membantu menyalakan pemancar listrik, juga campuran gas sodium – merkuri.
Lampu Uap Sodium
Gambar 5. Lampu Uap Sodium
Ciri-ciri:
  1. Efficacy 50 – 90 lumens/Watt (CRI lebih baik, Efficacy lebih rendah)
  2. Indeks Perubahan Warna 1 – 2
  3. Suhu Warna Hangat
  4. Umur Lampu 000 jam, perawatan lumens yang luar biasa
  5. Pemanasan 10 menit, pencapaian panas dalam waktu 60 detik
  6. Mengoperasikan sodium pada suhu dan tekanan yang lebih tinggi menjadikan sangat reaktif.
  7. Mengandung 1-6 mg sodium dan 20mg merkuri
  8. Gas pengisinya adalah Xenon. Dengan meningkatkan jumlah gas akan menurunkan merkuri, namun membuat lampu jadi sulit dinyalakan.
  9. Arc tube (tabung pemacar cahaya) didalam bola lampu mempunyai lapisan pendifusi untuk mengurangi silau.
  10. Makin tinggi tekanannya, panjang gelombangnya lebih luas, dan CRI nya lebih baik, efficacynya lebih rendah.
b.  Lampu Sodium tekanan rendah 
Walaupun lampu sodium tekanan rendah (LPS) serupa dengan sistem neon (sebab keduanya menggunakan sistem tekanan rendah), mereka umumnya dimasukkan kedalam keluarga HID. Lampu LPS adalah sumber cahaya yang paling sukses, namun produksi semua jenis lampunya berkualitas sangat jelek. Sebagai sumber cahaya monokromatis, semua warna nampak hitam, putih, atau berbayang abu-abu. Lampu LPS tersedia dalam kisaran 18-180 watt. Penggunaan lampu LPS umumnya hanya untuk penggunaan luar ruang seperti penerangan keamanan atau jalanan dan jalan dalam gedung, penggunaan watt nya rendah dimana kualitas warnanya tidak penting (seperti ruangan tangga). Walau demikian, karena perubahan warnanya sangat buruk, beberapa daerah tidak mengijinkan penggunaan lampu tersebut untuk penerangan jalan raya.
Ciri-ciri:
  1. Efficacy – 100 – 200 lumens/Watt
  2. Indeks Perubahan Warna – 3
  3. Suhu Warna – Kuning (2.200K)
  4. Umur Lampu – 16.000 jam
  5. Pemanasan – 10 menit, pencapaian panas – sampai 3 menit
6. Lampu Uap Merkuri
Lampu uap merkuri merupakan model tertua lampu HID. Walaupun mereka memiliki umur yang panjang dan biaya awal yang rendah, lampu ini memiliki efficacy yang buruk (30 hingga 65 lumens per watt, tidak termasuk kerugian ballas) dan memancarkan warna hijau pucat. Isu paling penting tentang lampu uap merkuri adalah bagaimana caranya supaya digunakan jenis sumber HID atau neon lainnya yang memiliki efficacy dan perubahan warna yang lebih baik. Lampu uap merkuri yang bening, yang menghasilkan cahaya biru hijau, terdiri dari tabung pemancar uap merkuri dengan elektroda tungsten di kedua ujungnya. Lampu tersebut memiliki efficacy terendah dari keluarga HID, penurunan lumens yang cepat, dan indeks perubahan warna yang rendah. Disebabkan karakteristik tersebut, lampu jenis HID yang lain telah menggantikan lampu uap merkuri dalam banyak penggunaannya. Walau begitu, lampu uap merkuri masih merupakan sumber yang populer untuk penerangan taman, sebab umur lampunya yang mencapai 24.000 jam dan bayangan taman yang hijaunya terlihat seperti gambaran hidup. Pemancar disimpan di bagian dalam bola lampu yang disebut tabung pemancar. Tabung pemancar diisi dengan gas merkuri dan argon murni. Tabung pemancar tertutup di dalam bola lampu yang berada diluarnya, yang diisi dengan nitrogen.
Lampu Uap Merkuri
Gambar 6. Lampu Uap Merkuri
Ciri-ciri
  1. Efficacy – 50 – 60 lumens/Watt ( tidak termasuk dari bagian L)
  2. Indeks Perubahan Warna – 3
  3. Suhu Warna – Menengah
  4. Umur Lampu – 16.000 – 24.000 jam, perawatan lumen buruk
  5. Gir pengendali alat elektroda ketiga lebih sederhana dan lebih mudah dibuat. Beberapa negara telah menggunakan MBF untuk penerangan jalan dimana lampu kuning SOX dianggap tidak pantas.
  6. Tabung pemancar mengandung 100 mg gas merkuri dan argon. Pembungkusnya adalah pasir kwarsa.
  7. Tidak terdapat pemanas awal katodaelektroda ketiga dengan celah yang lebih pendek untuk memulai pelepasan.
  8. Bola lampu bagian luar dilapisi fosfor. Hal ini akan memberi cahaya merah tambahan dengan menggunakan UV, untuk mengkoreksi bias pelepasan merkuri.
  9. Pembungkus kaca bagian luar mencegah lepasnya radiasi UV
7. Lampu Kombinasi 
Lampu kombinasi kadang disebut sebagai lampu two-in-one. Lampu ini mengkombinasikan dua sumber cahaya yang tertutup dalam satu lampu yang diisi gas. Salah satu sumbernya adalah tabung pelepas merkuri kuarsa (seperti sebuah lampu merkuri) dan sumber lainnya adalah kawat pijar tungsten yang disambungkan secara seri. Kawat pijar ini bertindak sebagai ballas untuk tabung pelepasan yang menstabilkan arus, jadi tidak diperlukan ballas yang lain. Kawat pijar tungsten digulung dengan susunan melingkar pada tabung pelepasan dan dihubungkan dalam susunan seri. Lapisan bubuk fluorescent diletakkan ke bagian dalam dinding lampu untuk mengubah sinar UV yang dipancarkan dari tabung pelepas ke cahaya nampak. Pada penyalaan, lampu hanya memancarkan cahaya dari kawat pijar tungsten, dan selama perjalanan sekitar 3 menit, pemancar didalam tabung pelepas melesat mencapai keluaran cahaya penuh. Lampu ini cocok untuk area anti nyala dan dapat disesuaikan dengan perlengkapan lampu pijar tanpa modifikasi
.Lampu Kombinasi
Gambar 7. Lampu Kombinasi
Ciri-ciri
  1. Nilainya biasanya 160 W
  2. Efficacy 20 hingga 30 Lm/W
  3. Faktor daya tinggi 0,95
  4. Umur 8000 jam
8. Lampu Metal Halida 
Halida bertindak sama halnya dengan siklus halogen tungsten. Manakala suhu bertambah maka terjadi pemecahan senyawa halida melepaskan logam ke pemancar. Halida mencegah dinding kuarsa diserang oleh logam-logam alkali.
Lampu Metal Halida
Gambar 8. Lampu Metal Halida
Ciri-ciri
  1. Efficacy – 80 lumens/Watt
  2. Indeks Perubahan Warna – 1A –2 tergantung pada campuran halida
  3. Suhu Warna – 3.000K – 6.000K
  4. Umur Lampu – 6.000 – 20.000 jam, perawatan lumens buruk
  5. Pemanasan – 2-3 menit, pencapaian panas – dalam waktu 10-20 menit
  6. Pemilihan warna, ukuran, dan nilainya lebih besar untuk MBI daripada jenis lampu lainnya. Jenis ini merupakan versi yang dikembangkan dari dua lampu pelepas dengan intensitas tinggi, dan cenderung memiliki efficacy yang lebih baik
  7. Dengan menambahkan logam lain ke merkurispektrum yang berbeda dapat dipancarkan
  8. Beberapa lampu SBI menggunakan elektroda ketiga untuk memulai penyalaan, namun untuk yang lainnya, terutama lampu peraga yang lebih kecil, memerlukan denyut penyalaan tegangan tinggi
9. Lampu LED
Lampu LED merupakan lampu terbaru yang merupakan sumber cahaya yang efisien energinya. Ketika lampu LED memancarkan cahaya nampak pada gelombang spektrum yang sangat sempit, mereka dapat memproduksi “cahaya putih”. Hal ini sesuai dengan kesatuan susunan merah biru hijau atau lampu LED biru berlapis fosfor.
Lampu LED bertahan dari 40.000 hingga 100.000 jam tergantung pada warna. Lampu LED digunakan untuk banyak penerapan pencahayaan seperti tanda keluar, sinyal lalu lintas, cahaya dibawah lemari, dan berbagai penerapan dekoratif. Walaupun masih dalam masa perkembangan, teknologi lampu LED sangat cepat mengalami kemajuan dan menjanjikan untuk masa depan. Pada cahaya sinyal lalu lintas, pasar yang kuat untuk LED, sinyal lalu lintas warna merah menggunakan lampu 10W yang setara dengan 196 LEDs, menggantikan lampu pijar yang menggunakan 150W. Berbagai perkiraan potensi penghematan energi berkisar dari 82% hingga 93%. Produk pengganti LED, diproduksi dalam berbagai bentuk termasuk batang ringan, panel dan sekrup dalam lampu LED, biasanya memiliki kekuatan 2-5W masing-masing, memberikan penghematan yang cukup berarti dibanding lampu pijar dengan bonus keuntungan masa pakai yang lebih lama, yang pada gilirannya mengurangi perawatan.
Demikian pembahasan mengenai jenis - jenis lampu yang ada disekitar kita. Semoga bermanfaat bagi kita semua.